Hampir tiga bulan Nenek tinggal bersama kami di Malang dan sudah tiba waktunya Nenek pulang ke Samarinda Kalimantan Timur dan hari itu pagi sekali kami sekeluarga berangkat ke Surabaya untuk antar Nenek ke Airport Juanda dan begitu sampai di airport papa mengantar nenek masuk keruang check in dan di karenakan pengantar hanya boleh mengantar sampai pintu masuk maka nenek pun berpamitan sampai disitu dan air mata nenek saat itu jatuh menetes di saat dia hendak pergi meninggalkan kami semua, waktu itu nenek bilang kalau masih diberikan umur panjang maka nenek akan berkunjung lagi ke Malang dan akupun berharap demikian semoga bisa bertemu nenek lagi.
![]() |
| Kai Anang Djuprie Kurdie dan Nenek Rusniah |
Sepulangnya Nenek ke Samarinda selang beberapa minggu kami mendapat kabar kalau nenek lagi sakit keras dan masuk rumah sakit, saat itu tepat pas bulan agustus dimana papa dan teman-teman di perumahan lagi mempersiapkan ke ikut sertaan dalam lomba tingkat RW, awalnya sih papa biasa aja karena sudah sering mendapat kabar kalau nenek masuk rumah sakit tapi pada suatu hari tiba-tiba papa ada keinginan untuk pulang lagi ke kalimantan dan papa bilang ke mama waktu itu," kayaknya kepulanganku kali ini yang terakhir berjumpa dengan nenek,". esoknya papa beli tiket penerbangan siang ke balikpapan.
Begitu di Balikpapan papa di jemput oleh kakaknya papa yang tertua yaitu om Rivanie (Vanie) dan setelah di rumah, om Vanie nawarin papa untuk nginap satu malam kemudian besok sore berangkat ke Samarinda jenguk nenek di rumah sakit. Tapi waktu itu papa punya perasaan lain dimana hati papa ingin segera bertemu dengan Nenek, karena papa pernah punya pengalaman yang bisa di katakan pahit yaitu kejadiannya tujuh tahun yang lalu tepatya tahun 2002 saat itu papa masih kuliah tingkat akhir dan kejadiannya tepat bulan puasa, menurut cerita mama dimana papa selesai makan sahur tiba-tiba papa di telpon oleh kai (kai adalah panggilan kakek dalam bahasa banjar) di Samarinda waktu itu kondisi kai sehat sekali, kemudian ada dialog antara papa dengan kai kira-kira seperti ini, kai bertanya ke papa," Vin kamu lebaran ini pulang gak...?" kemungkinan saya tidak pulang karena masih ada ujian pratikum yang mesti diselesaikan bah," jawab papa. ,"oh kalau gitu abah kirimin kamu uang ya nanti besok siang kamu bisa cek di rekening," kata kai. Waktu itu papa antara senang dan bingung karena kai biasanya kirim uang kalau papa minta dan sekarang engga diminta kok malah ngirim dan papapun hanya bisa jawab terimakasih ke kai. Begitu siang papa cek di ATM ternyata emang benar kai sudah kirim uang dan hari itu tidak ada firasat apa-apa dibenak papa, pas jelang maghrib mau buka puasa di hp papa waktu itu berdering ada panggilan dimana tertera nama Achmad Dani kakak nya papa yang nomor tiga, begitu papa jawab telpon tersebut ternyata om Dani gak ada basa-basi langsung kasih kabar ke papa kalau abah (kai) meninggal, papa langsung tidak fokus lagi mau buka puasa dan sangat terpukul atas berita tersebut.
dari pengalaman itulah papa tidak mau hal tersebut terulang untuk kedua kalinya. Sampailah papa ke Samarinda dengan menumpang bus trans Balikpapan-Samarinda dengan menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, pertama papa mampir dulu ke rumah dimana tempat papa dilahirkan dan rumah itu sekarang dihuni oleh om Dani beserta istri dan anak-anaknya. Tak lama kemudian om Zirin kakak papa kedua menjemput papa untuk pergi ke rumah sakit bersama-sama, tat kala papa tiba di rumah sakit nenek terlihat kurus sekali dan dikepala nenek tidak ada sehelai rambutpun kemudian papa menghampiri nenek dengan duduk di sebelah sisi kanan dari ranjang nenek dan yang pertama kali ditanyakan nenek adalah bagaimana kabarnya Nio dan Angela, nenek kalo panggil kak Neo dengan sebutan Nio maklum gaya bahasa nenek sangat jauh dari intonasi berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Papa pun menjawab ke nenek kalau kami sekeluarga baik-baik saja di Malang bahkan berharap Nenek lekas sembuh agar bisa main ke Malang lagi, Nenek hanya tersenyum dan menjawab Insha Allah. setelah mengobrol sedikit dengan nenek papa pun kembali keruang tunggu di rumah sakit dimana di situ ada om zirin dan papapun memutuskan untuk menginap di rumah sakit malam itu karena papa punya firasat lain terhadap Nenek walaupun dokter bilang bahwa nenek mengalami kemajuan dengan kondisinya saat itu.
| Kenangan bersama nenek |
Pagi harinya di saat papa bangun ternyata sudah ada tante Ida kakaknya papa saudara perempuan satu-satunya persis di atas papa, kan papa anak bungsu dari enam bersaudara. Hari itu di rumah sakit ada papa, om zirin, om dani dan tante ida, waktu itu tante Ida mau berangkat ke Jakarta karena ada tugas dari kantornya tapi papa minta dengan tante Ida lebih baik jangan berangkat karena daripada menjadi penyesalan kemudian hari, untungnya Tante Ida waktu itu mau mendengarkan papa. begitu hari sudah petang dan setelah maghrib tiba-tiba perawat dan dokter masuk keruangan nenek dan mereka berusaha sedaya upaya membantu nenek namun karena mungkin nenek sudah tidak bisa tertolong lagi akhirnya dokter tersebut menyampaikan ke keluarga untuk meminta maaf dan berkata bahwa kita hanya tinggal menunggu keajaiban dari Tuhan saja dan dokterpun memberi kesempatan keluarga untuk melepas kepergian nenek terakhir kalinya, waktu itu om Dani syok dan menangis terus di samping nenek sedangkan om Zirin berusaha menenangkan tante Ida karena tante Ida sangat galau sekali dan tidak sanggup untuk melihat di saat-saat terakhir nenek. Papa sebagai anak yang terkecil berusaha ikhlas sambil berbisik di telinga nenek dengan kalimat syahadat untuk mengiringi kepulangan nenek ke Sang Khalik.
Setelah beberapa kali nenek mengucapkan kalimat syahadat yang dibisikkan papa di telinganya kemudian perlahan-lahan nenek menutup kedua matanya dengan hembusan napas terakhir dan nenekpun telah tiada meninggalkan kita semua, Selamat Jalan Nenek sekiranya hanyalah kenangan tentang dirimu lah yang selalu hidup dalam pikiran kita .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar